Stop! Don’t touch me baby “Sebelum aku engkau nikahi”

Stop! Don’t touch me baby “Sebelum aku engkau nikahi”

“Dan janganlah kamu mendekati zina; sesungguhnya zina itu adalah suatu perbuatan yang keji dan suatu jalan yang buruk.” (Al-Israa : 32)

Pernah lihat gak seoarang akhwat dan ikhwan yang beda mahram ketika mereka sedang jalan bergandengan tangan kesana kemari dengan mesranya, ada juga yang mojok berdua-duaan di kesunyian sambil pengang-pegangan. Bahkan ditengah keramaian orang pun seakan tak ada lagi rasa malu baginya untuk saling berciuman?. Naudubillahimindzalik. Bentuk berjabatan tangan saja yang dengan alasan silaturahmi ataupun sekedar salam penghormatan, jika itu dilakukannya dengan orang yang bukan mahram sudah dimurkai Allah. Apalagi jika lebih dari itu. Konyolnya kemudian mereka merasa bahwa yang dilakukannya itu adalah demi orang yang dicintainya, itu sebagian dari pembuktian kecintaan terhadapnya. Ups! lagi-lagi cinta menjadi korban dari tipu daya nafsu dan setan. Benar apa kata Ustd. Salim A Fillah yang mengatakan: “Betapa para penipu menggunakan kata cinta untuk mewakili nafsu keji yang mereka selumutkan sepanjang proses pendahuluan sampai zina yang disebut pembuktian cinta.” Astaghfirullah…

Sahabatku, bukankah kita telah mengetahui cinta itu fitrah?. Maka jagalah kefitrahannya. Seperti yang pernah saya tulis di posting sebelumnya, pengorbanan cinta bukanlah kerelaan untuk melakukan sesuatu yang buruk demi menuruti permintaan orang yang dicintai, jangan jadikan cinta sebagai alasan terciptanya kenistaan. Pengorbanan cinta ialah dimana engkau rela melakukan sesuatu karna itu baik untuk kalian dan tega menolak sesuatu karna itu buruk untuk kalian. Selamanya kodrat cinta akan selalu menuntut dan berupaya membuat senang orang yang dicintainya namun kesenangannya tidak selamanya berarti kebaikan baginya. Boleh jadi yang dirasa baik itu hanyalah menurut hawa nafsu. Dan kesungguhan cinta bukan harus dibuktikan dengan prilaku tercela dan sifat kekanank-kanakan, melainkan dibuktikan dengan pernikahan. Engkau rela menuruti ajakan menyimpang orang yang engkau cintai bukan berarti itu membuktikan kecintaan engkau terhadapnya. Melainkan engkau telah merendahkan derajat diri sendiri dari niat busuk setan yang ingin melecehkan kehormatanmu. Cinta yang fitrah itu yang saling menjaga kesucian diri satu sama lain, bukan yang saling mengotori. Bukankah hati nuranimu sering berbisik dengan mengatakan “aku menginginkan belahan jiwa yang suci”? Maka selayaknyalah engkaupun menjaga kesucian dirimu sendiri. Menginginkan belahan jiwa yang suci tanpa menjaga kesucian diri sendiri hanyalah mimpi disiang bolong. Masih ingat kan ayatnya?. “..Wanita yang baik adalah untuk lelaki yang baik dan laki-laki yang baik hanyalah untuk wanita yang baik…” (An Nur 26). Nah yang sucipun hanya untuk yang suci. Jalan mana lagi yang harus dilakukan untuk mendapatkan yang suci selain dengan cara menjaga kesucian diri sendiri.

Jika kita ibaratkan tangan seorang wanita seperti kertas putih yang bersih, maka satu sentuhan tangan lelaki yang bukan mahramnya tanpa terhijab sama dengan coretan tinta hitam yang menggoresi lembaran kertas sebelum si penulisnya tiba. Semakin sering tergores semakin rocet, semakin rocet semakin hilang nilai guna kertas itu untuk dijadikan lembaran tulisan bagi si penulis. Jika kertas itu sudah rocet sebelum penulisnya datang, apa yang dapat engkau berikan ketika nanti sipenulis yang bertugas menulis disana telah benar-benar datang?. Bagaimana mungkin si penulis mau menuliskan untaian kata-kata dengan pena dan tinta emasnya itu diatas kertas yang sudah rocet. Bingung ya?. Begini maksudnya, jika kesucian dirimu telah terkotori sebelum ikatan pernikahan, lalu apa yang dapat engkau persembahkan jika suatu hari engkau menemukan seseorang yang benar-benar engkau pilihkan untuk kebahagiaan rumah tanggamu kelak?. Apalagi jika sidia yang engkau pilihkan itu adalah seorang yang benar-benar terpilih yang engkau yakini kesucian dan keshalihannya. Jika benar-bedar ia masih suci, sulit juga rasanya ia mau membersamai yang telah terkotori?. Hmm padahal si dia yang suka pegang-pegang itu juga kan belum tentu menjadi suamimu. Kalaupun jadi ya itu wajar saja dan pantas memang, berarti satu-satu, atau sama-sama. . . . . (ya gitu deh) hehe.

Sabarlah sahabatku, Allah pasti menjadikan sesuatu yang kita ingini itu indah jika ia telah meridhai dan sudah tepat pada waktunya. Namun jika kita lebih memilih mentergesai sebelum saatnya tiba, ini hanya akan mengundang konsekuensi terbalik. Suami istri yang saling pandang dan saling berpegangan tangan itu mah bagus. Mereka sama saja dengan mengundang turunnya rahmat Allah dan menggugurkan dosa-dosanya melalui sela-sela jari-jemari mereka. Pahalalah yang akan mereka dapati.  Lha kalau ini terjadinya bukan pada suami istri atau terjadi sebelum pernikahan?. Pandangannya bukan mengundang rahmat melainkan mendatangkan laknat, pegangan tangannya bukan menggugurkan dosa melainkan mempertebal dosa. Yang akan diterima bukanlah pahala melainkan siksa. Tuh kan terbalik?.

Diriwayatkan oleh Abu Hurairah ra. bahwa Nabi saw. bersabda: “Sesungguhnya Allah telah menentukan kadar nasib setiap manusia untuk berzina yang pasti akan dikerjakan olehnya dan tidak dapat dihindari. Zina kedua mata ialah memandang, zina lisan (lidah) ialah mengucapkan, sedangkan jiwa berharap dan berkeinginan dan kemaluanlah (alat kelamin) yang akan membenarkan atau mendustakan hal itu.” (Shahih Muslim No.4801)

Sahabatku, ternyata betapa diri kita ini sudah jelas membuka kesempatan untuk memungkinkan diri bermaksiat sampai berzina. Alqur’an sudah lebih dulu mewanti-wanti kita agar tidak mendekati zina. Karena itu adalah suatu perbuatan yang keji dan suatu jalan yang buruk. Hal ini lah yang kemudian harus ditakuti agar kita selalu waspada dan berhati-hati. Segeralah kita tutup rapat-rapat celah yang memungkinkan setan dapat masuk dan membabibuta, menggoda kita untuk bermaksiat. Tutup serapat mungkin sebelum diri menjadi bulan-bulanan setan yang hendak mejerumuskan. Jika tidak?. Jika tidak maka pihak ketiga (setan) yang tertawa, ia leluasa untuk membuat kita binasa. Kita lihat kemungkinannya: awalnya mungkin hanya ketemuan, kemudian saling pandang. Esok hari mulai berani pegang-pegangan dilanjut belai-belaian. Lusa nanti berani minta kiss-kissan, jika sudah begitu bukan tidak mungkin dikemudian hari berani untuk. . . dan . . . Eits! gak boleh di bayang-bayangkan! heheIngat, setan itu akan selalu membuat penasaran demi menciptakan dan meningkatkan bobot kemaksiatan yang lebih buruk. Astaghfirullahal’adzim. La illaha illa Anta, subhanaka inni kuntu minadzalimin.

Jaga kesucian diri untuk mendapati belahan jiwa yang suci, jangan biarkan kertas putih itu tergoresi tinta hitam yang menodai. Apalagi jika sampai di sobeknya. Biarlah nanti si penulis yang terpilih saja yang akan mengukir untaian kata-kata indah dengan torehan pena dan tinta emasnya pada  lembaran kertas suci itu diatas meja pernikahan. Namun jika sebelum pernikahan, jika si dia terlihat mulai beraksi segeralah katakan: “stop! Don’t touch me baby sebelum aku engkau nikahi.” Berani?

 

Sebelum diijab kabulkan syari’at tetap membataskan

pelajari ilmu rumah tangga agar kita lebih bersedia

menuju hari yang bahagia

(Hijjaz, Kasih Kekasih)