Celaka dibalik Cinta

Sewaktu masa-masa SMA dulu, ada salah seorang teman saya yang bisa dibilang fanatik dengan yang namanya ‘pacaran’. Atau bisa juga disebut orang yang ‘anti pacaran’. Bilamana obrolan dengan teman-temannya menyinggung masalah pacaran, atau ketika melihat ada tema ikhwannya yang terlihat sedang berkholwat (berdua-duaan) dengan akhwat maka saat itu juga dengan tegasnya ia langsung berkata, “Tidak ada Pacaran dalam Islam, pacaran haram hukumnya”. Begitu ungkapnya. Tidak jarang mereka yang kesindir merasa malu dibuatnya.

Namun sayangnya komitmen ‘Anti Pacaran’ yang ditanamkan dan di syi’arkannya itu tidak dipegangnya dengan keteguhan. Syetan mulai beraksi. Ah syetan memang tukang goda paling hebat ahli rayu paling jitu dalam hal menggelincirkan umat manusia kedalam jurang kenistaan yang menghinakan.

Suatu hari teman saya itu menaruh hati pada seorang akhwat  satu sekolahannya. Tidak ada yang salah memang dengan perasaannya. Namun yang disayangkan adalah realisasi dari perasaannya tersebut. Dikemudian hari ia ternyata dipergoki teman-temannya tengah jalan berdua dengan akhwat yang dicintainya itu. Gempar sudah kabar tentang dirinya. Penghormatan yang di suguhkan oleh teman-temannya atas dakwah-dakwahnya berbalik menjadi cacian dan penghinaan yang menyakitkan. Astaghfirullah

Begitulah jika cinta tidak dijaga, lengah menjaga cinta dapat membuat seseorang celaka. Terkadang kesenangan yang ditawarkan cinta membuat terlena hingga tak menyadari padalah cintanya telah dibuat media syetan yang hendak membibasakan. Dari kisah diatas kita dibuat mengerti betapa syetan itu menggoda manusia dengan berbagai siasat dan dari segala arah kepada siapapun dan dimanapun. Apa yang sebelumnya dilihat sebagai keindahan yang akan membahagiakan ternyata hanya berbuah sesal dikemudian. Syetan itu penipu ulung, “Syaitan itu memberikan janji-janji kepada mereka dan membangkitkan angan-angan kosong pada mereka, Padahal syaitan itu tidak menjanjikan kepada mereka selain dari tipuan belaka.” (An-Nisa : 120)

Sahabatku, sedikit apapun celah yang kita anggap wajar dapat menjadi ruang yang besar yang mengundang datangnya kegombalan syetan yang hendak membinasakan. Baru kepergok jalan berdua saja sudah membuatnya terhinakan, bagaimana jika lebih dari itu?. Hmm ternyata jangankan yang masih awam dengan pengetahuan agama, anak pesantrenanpun kini telah banyak kita temukan yang akhirnya tergelincir kedalam lembah kemaksiatan. Kepribadiannya menjadi bertolak belakang dengan apa yang orang lain bayangkan. Kesenangannya hanya dirasa sekejap namun kehinaan dan kerendahan derajat dihadapan orang banyak menjadi cacian yang berkepanjangan. Astaghfirullahal’adzim, “aku berlindung kepada Allah dari godaad syetan.

Sebaliknya mereka yang tetap teguh dalam mengelak dan menolak akan rayuannya syetan, Allah membalasnya dengan memuliakan dirinya. Mengangkat derajatnya dan menggantinya dengan memberi kebahagiaan yang nyata, yang diridhai-Nya, yang lebih nikmat dari apa yang ditawarkan syetan si pendusta.

Kisah Yusuf yang rela memilih penjara daripada meladeni tipudaya syetan yang merasuk melalui kemolekan Julaekha telah memberi gambaran dimana Allah memuliakan seseorang yang tetap berpegang teguh pada tali buhul agama-Nya.

“Dan wanita (Zulaikha) yang Yusuf tinggal di rumahnya menggoda Yusuf untuk menundukkan dirinya (kepadanya) dan dia menutup pintu-pintu, seraya berkata: “Marilah ke sini.” Yusuf berkata: “Aku berlindung kepada Allah, sungguh tuanku telah memperlakukan aku dengan baik.” (Yusuf : 23).

Berkat keteguhannya pada komitmen atas kebenarannya agama, Allah pun mengakui dan mengabadikan kemuliaan akhlaknya dalam Al-Qur’an, “Sesungguhnya Yusuf itu Termasuk hamba-hamba Kami yang terpilih.” (Yusuf : 24)

“ Yusuf berkata: “Wahai Tuhanku, penjara lebih aku sukai daripada memenuhi ajakan mereka kepadaku. dan jika tidak Engkau hindarkan dari padaku tipu daya mereka, tentu aku akan cenderung untuk (memenuhi keinginan mereka) dan tentulah aku Termasuk orang-orang yang bodoh.”( Yusuf : 33)

Kemudian kisahnya Khalid al-Miski yang lebih suka melumuri tubuhnya dengan kotorannya sendiri demi menghindari tipudaya dan godaan seorang gadis cantik kala itu. Berkat rasa takutnya berbuat durhaka pada Allah, kemudian Allah pun menggantinya dengan keharuman pada tubuhnya seharum minyak kasturi (misk). Hingga ia dijuluki Khalid al-Miski atau Khalid si kasturi.

Sedih berbalas pahala lebih baik daripada bahagia berbuah dosa
berlalu dalam keharuan lebih indah dibanding bersama dalam kenistaan
derita cinta bukan karena cinta tak berbalas atau cinta yang terpisah
melainkan cinta yang menuai dosa
hidup tanpa cinta hampa terasa
namun cinta tanpa agama hanya membuat manusia celaka
 
“Sesungguhnya syaitan itu adalah musuh bagimu, Maka anggaplah ia musuh(mu), karena Sesungguhnya syaitan-syaitan itu hanya mengajak golongannya supaya mereka menjadi penghuni neraka yang menyalanyala.” (Fathir : 6)
Iklan

Engkau cantik tapi…

Berbicara tentang kecantikan atau ketampanan itu berarti secara ilmiah mata telah tertuju pada wilayah keindahan lahiriyah. Ibnu Qayyim mengatakan, keindahan lahir adalah hiasan yang secara khusus diberikan Allah kepada sebagian rupa, dan sebagian lain tidak diberi-Nya. Hal ini termasuk tambahan dalam penciptaan-Nya. sebagaimana firman-Nya,

“. . . Allah menambahkan pada ciptaan-Nya apa yang dikehendaki-Nya. Sesungguhnya Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu” (Al-Fathir : 1)

Ya, kecantikan yang terukir pada rias wajah para akhwat patutlah untuk disyukuri, begitu pula ketampanan menawan yang ter pampang di wajah para ikhwan. Semua itu adalah anugerah yang Allah berikan terhadap makhuk ciptaan-Nya, dimana Ia menciptakan manusia dengan sebaik-baiknya rupa. “sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya” (Q.s. Attin : 4).

Akan tetapi, keindahan yang tampak dimata bukanlah satu tolak ukur yang mampu membedakan manusia itu baik tidaknya dirinya. Orang yang cerdas dalam mencintai tidak hanya melihat pada satu faktor keindahannya saja. Tetapi ia mampu meninjaunya dari berbagai sisi dari sudut pandang yang lain terutama pada akhlak dan agamanya. Ia dapat menghadirkan dialog antara logika dan perasaannya untuk sebuah pertimbangan.

Kecantikan memang menarik hati, namun itu belum tentu dapat menghadirkan ketenangan batin. Ketampanan memang memikat namun itu pun belum tentu mampu menjamin kedamaian jiwa. Yang cantik dan yang tampan bukan berarti itu baik. Akan tetapi kemuliaan akhlak itulah yang baik. Akhlak yang baik dapat menjadikannya cantik, pribadi yang indah dapat membuatnya rupawan. Kesalihan, itulah jaminan untuk menuju kebahagiaan bersama pasangan. Ibnu Qayyim Al-Jauzziyah dalam bukunya “Taman Orang-orang Jatuh Cinta dan Memendam Rindu” mangatakan: Kesesuaian yang asli adalah kecocokan akhlak, persamaan jiwa, kerindian satu jiwa terhadap jiwa yang cocok dengannya. Hal ini pula yang kemudian mendorong sebagian orang berkata: “cinta tidak tumbuh karena alasan keindahan dan keelokan, sehingga jika tiada keindahan dan keelokan, tiada pula cinta. Tetapi cinta adalah kesesuaian jiwa dan kecocokan tabiatnya.”

Nah, engkau para ikhwan yang saat ini tengah terpesona dengan kecantikan yang engkau anggap tak bisa tergantikan, atau engkau para akhwat yang sedang tertawan hatinya lantaran ketampanannya yang rupawan. Tak seharusnya engkau terlalu mengedepankan perasaan sebab hanya melihat keindahan. Cobalah beri sedikit waktu kepada akal untuk mempertimbangkan apakah dia yang cantik itu baik atau dirinya yang tampan itu baik?. “Engkau cantik tapi . . .”, atau “engkau tampan tapi . . .” keputusan akhirnya tentu engkau sendiri yang lebih tau mana yang kemudian harus ditentukan. Afwan sahabat, bukan saya bermaksud menyuruh untuk tajasus. Sekali lagi, hal ini dimaksudkan sekedar untuk mempertimbangkan sebuah pilihan sebelum engkau mengambil keputusan. Kita yang menjalani hidup maka kita sendiri yang akan merasakan kebaikan dan keburukan atas apa yang telah kita putuskan.

Untuk para ikhwannya masih ingat kan hadist ini?.

Nabi saw bersabda: “Perempuan itu dinikahi karena empat hal, yaitu: harta, keturunan, kecantikan, dan agamanya. Dapatkanlah wanita yang taat beragama, engkau akan berbahagia.” (Muttafaq Alaihi dan Imam Lima)

Sahabatku, Janganlah engkau bersempit pandangan dengan memilih cinta yang hanya sebatas indah dimata cobalah untuk sedikit berkaca pada realita. Bayak diantara mereka yang akhirnya harus tersiksa setelah menjalaninya. orang-orang yang gagal dalam cinta ialah mereka yang mengawali cintanya karena nafsu dan emosi semata, baru logika bicara setelah ia rasa menderita. Kecantikan rupa itu penting, kecantikan harta itu juga penting, kecantikan akhlak itu yang lebih penting. Meski dirinya tak begitu cantik namun memiliki pribadi yang baik tidak akan menyulitkannya untuk dicintai. Dan mendapatkan pasangan yang baik adalah satu kepantasan bagi orang yang memiliki pribadi baik. Insya Allah hal ini akan kita bahas pada post berikutnya.

Tahan sejenak rasa yang hendak diungkapkan
hadirkan dialog antara logika dan perasaan untuk mempertimbangkan
mintalah petuah pada orang-orang yang dapat menunjukan kebenaran
libatkan selalu Allah dalam setiap urusan
siapa tau dia bukanlah sebaik-baik pilihan
kebaikan tugas bersama untuk saling mengingatkan
hidayah hanya Tuhan yang berikan
engkaulah yang menentukan pilihan
engkau sendiri yang akan hidup diatas keputusan

Akhiri Deritamu…

Engkau yang saat ini dihadapkan dengan pilihan yang menuntut satu keputusan yang berat, cobalah untuk berpikir objektif realistis dan apa adanya. Jangan terlalu didramatisir, anggap saja ini jalan yang menguji kedewasaan. Terkadang ketegasan dalam mengambil keputusan itu diperlukan meski hati merasa berat untuk melakukan.

Ya, sebuah pengkhianatan yang dilakukan oleh orang yang dicintai akan terasa menghinakan dan merendahkan. Bagaimana tidak, dirinya yang selama ini dipercaya tak ubahnya hanya menjadi pemberi derita. Indahnya sekejap namun deritanya berkepanjangan. Banyak diantara mereka yang sadar akan penderitaan yang dirasakan namun begitu berat baginya untuk segera mengakhiri. Akhirnya mereka lebih lama bercanda dengan kesedihan, kegelisahan, kekhawatiran dan seabrek ketakutan yang ia ciptakan sendiri. Tak heran jika kata cinta buta pun terlontarkan dari orang-orang yang merasa peduli terhadapnya. Namun sebenarnya bukan cinta yang telah membuat ia buta, melainkan kecintaannya yang telah melumpuhkan logika.

Sudahlah sahabat, kenapa engkau suka berlama-lama dalam penderitaan? tak sadarkah kau waktumu telah tersiakan? tak bisakah engkau tegas dalam mengambil keputusan? atau tak terimakah engkau dengan ketetapan Tuhan?. Rasa enggan untuk menentukan pilihan bukan berarti harus berdiam dalam ketidakmenentuan, rasa berat untuk melepaskan pilihan bukan berarti harus menghakimi ketidak mampuan. Jikalau pilihan saat ini hanya menuai penderitaan, buat apa diteruskan?.

Sahabatku, kita makhluk yang dianugrahi akal dan fikiran, tak selayaknya larut dalam kekerdilan perasaan, bersegeralah tentukan mana yang harus diprioritaskan kemudian lakukan apa yang mampu untuk dilakukan demi satu kegemilangan untk hidupmu dimasa mendatang. Percayalah bahwa apa yang diberikan Tuhan itulah sebaik-baik ketetapan.

“boleh jadi kamu membenci sesuatu, Padahal ia Amat baik bagimu, dan boleh Jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, Padahal ia Amat buruk bagimu; Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui.” (QS: Al-Bakarah 216)

Kecewa…?

Kecewa…

Siapa yang tak merasa kecewa jika sesuatu yang diinginkannya selama ini ternyata tidak serta merta terjadi sesuai dengan yang diharapkan. Namun bagaimanapun itu adalah hal yang wajar mengingat semua manusia normal pastilah akan merasakannya. Akan tetapi tidak perlu karena rasa kecewa itu lantas kita menyesali usaha dan jerih payah yang telah kita lakukan. Apalagi jika harus melampiaskannya dengan sikap su’udzhon terhadap Allah. Jangan seperti itu. Kita sebagai manusia hanya mampu berusaha, Allah-lah yang menentukannya

Banyak diantaranya yang kemudian menyalahkan cinta atas sebuah kegagalan ataupun kekecewaannya. Padahal cinta itu fitrah dan polos sifatnya. Ia tidak mengenal benar dan salah. Yang mengetahui benar dan salah adalah ilmu yang berbentuk akal dan yang menjadi kendali tindakannya adalah iman. Maka arahkanlah cinta dengan ilmu dan akal yang sehat kemudian kendalikan dengan iman yang kuat agar cinta tak membuatmu kecewa. Sebagaimana Ibnu Qayyim mengatakan bahwa: dalam diri manusia ada dua wasiat, yaitu akal dan agama akal fungsinya untuk membedakan baik dan buruk. Dengan akal manusia diberi wilayah pilihan untuk ini dan itu. Dan agama berfungsi sebagai tata aturan hidup manusia, yang menentukan baik dan buruk. Jika ditaati berpahala dan jika dilanggar berdosa.

Assalamu’alaikum Cinta

Assalamu’alaikum Cinta

Tersusun dalam lima huruf C.I.N.T.A cinta. Satu kata ini telah menjadi sebuah topik yang membahana, semarak dan tak pernah usai untuk diperbincangkan. Diberbagai belahan dunia, dari masa kemasa tak pernah bosan orang-orang berbicara tentang cinta, mulai dari rakyat jelata hingga pejabat Negara, tukang kusir hingga para penyair bahkan sampai tukang sihir. Anak-anak, remaja, dewasa hingga orangtua, semuanya sudah tak aneh lagi mendengar kata cinta.

Cinta ibarat sang penguasa dunia yang berhasil membangun peradaban unik tanpa tanding. Kedatangannya menyematkan nama tersendiri di hati seluruh masarakat seantro jagat raya. Tak heran jika cinta kemudian seperti raja yang begitu diagungkan.

Ya, wajar saja. Karena memang cinta adalah sebuah fitrah manusia yang secara alamiah memiliki ruang tersendiri didalam hati untuk mewarnai liku kehidupan setiap makhluk-Nya di muka bumi ini. Kendati demikian, kehadiran cinta bukan untuk disalahkan, melainkan harus dijadikan sebentuk ruh yang dapat mempersatukan dan mendamaikan.

Cinta adalah sebentuk rasa yang datang tanpa diundang meski kehadirannya begitu dinanti. Kedatangannya menawarkan berjuta keindahan dan kebahagiaan, namun juga tak lepas dari penguntitan penyiksaan yang bisa mencelakakan. Semuanya tergantung bagaimana cara menyikapinya. Sebagai makhluk yang mulia, manusia tentunya berbeda dengan makhluk lainnya dalam menyambut kehadiran cinta. Manusia perlu pondasi yang kokoh dengan senantiasa memperkuat keimanan dan penataan ruang yang asri dihatinya dengan menebarkan kebaikan, kemudian ulurkan tangan dengan logika dan perasaan yang seimbang untuk menyambut kehadiran tamu istimewa yang bernama cinta. Agar kedatangan sang tamu tak menjadi masalah yang merepotkan bagi pemilik hati. Tak juga membuat sang tamu merasa dikecewakan karena penyambutan dan penerimaan tuan hati yang tak sesuai adab dan aturan. Ucapan salam keselamatan dan sambutan selamat datang, adalah satu kehormatan awal yang wajar diberikan kepada sang tamu: “Assalamu’alaikum cinta, selamat datang. silahkan kau tempati ruang hati yang telah lama menanti. Ini adalah tempat yang menjadi hak-mu untuk kau tinggali. semoga engkau betah disini, engkau adalah tamu yang fitrah. Ingatkan aku jika pemilik hati menyajikanmu pada suguhan yang salah. Engkau adalah tamu yang suci, kuharap kehadiranmu menebar barkah yang kan membimbing tuan pemilik hati menapaki jalan yang diridhai.” Baca lebih lanjut

Pengorbanan Cinta

ingat sahabatku..
pengorbanan cinta bukanlah kerelaan untuk melakukan sesuatu yg buruk demi menuruti permintaan orang yang dicintai
jangan jadikan cinta dan kasih sayang sebagai alasan terciptanya kenistaan
pengorbanan cinta ialah dimana engkau rela melakukan sesuatu karna itu baik dan tega menolak sesuatu karna itu buruk
selamanya kodrat cinta akan selalu berupaya membuat senang orang yg dicintainya
namun kesenangannya tidak selamanya berarti kebaikan baginya..
hey..! hati-hati dalam berkorban.. ^_^

Harapan dan keikhlasan

jadilah pribadi yang tegas dalam menapaki kebaikan

jadilah pribadi yang lembut dalam cinta dan berkasih sayang

jadilah pribadi yang bijak dalam melerai permasalahan

jadilah pribadi yang tangguh dalam menghadapi kegagalan

duhai Tuhanku yang Maha Penyayang…

hamba adalah makhluk yang maha lemah

jika aku tak cukup dewasa dalam menerima ketetapan, maka jadikanlah hamba manusia yang penuh kesabaran

jika niatku tak cukup lurus dalam menjalankan kebaikan, maka jadikanlah hamba manusia yang penuh keikhlasan