Yang penting Kenikmatannya

Yang penting kita sama-sama Nikmat…! :DMasih ingatkah engkau kawan?! Ini adalah foto ketika berjama’ah makan dipinggir jalan seusai kerja bakti bersama warga desa Haurngombong saat kita KKN dulu. Duduk bersama diatas tanah berdebu beralaskan sehelai tikar yang sudah terlihat sedikit lusuh. Ketika itu kita makan hanya sajian makanan yang alakadarnya (nasi liwet, ikan asin, lalap kubis plus sambal goreng). Namun semua itu tidak membuat kita merasa gengsi apalagi jijik, tidak pula mengurangi kenikmatan cita rasa makanan yang kita makan. Kita terus bersantap ria bersama pak Kuwu, kang Jeje, pak RT dan sejumlah warga lainnya. Malahan ada diantara kita yang sambil saling suap menyuapi. Siapa yah? hehe

Tanpa kita sadari ternyata kebersamaan telah membumbui makanan yang kita santap kala itu, sehingga sajian makanan yang sesederhana itu pun terasa nikmat luarbiasa. Bila saja pada saat itu diantara kita ada yang memisahkan diri dari kebersamaan, memilih untuk makan direstoran sendirian. Saya yakin, meskipun menu makanannya lebih banyak pilihan, tapi kenikmatan yang dirasakan pastilah terasa berbeda.

Akhirnya sekarang kita mulai mengerti mengapa Rasulullah Saw menganjurkan kita untuk tidak makan sendirian. Sebaliknya Rasul Saw mengajarkan kita untuk makan secara berjama’ah. Selain untuk menjaga kedekatan dalam ikatan ukhuwah, hal penting yang juga perlu kita ketahui ternyata tidak selamanya kenikmatan makan bergantung pada jenis makanan apa yang kita makan. Orang yang sehari-harinya makannya dengan daging kambing atau daging ayam belum tentu rasa nikmatnya lebih tinggi dibanding mereka yang hanya makan dengan daging ikan asin. Sama-sama makan daging sih tapi beda jenis hehe. Tetapi meskipun jenis makanannya sama, pasti tetep beda deh tingkat kenikmatan yang dirasanya. Apalagi jika makannya dilakukan secara berjama’ah. Jelas ini akan membedakan rasa nikmatnya.

Sekali lagi, kenikmatan makan tidak bergantung pada jenis makanan yang kita makan. (Maksud “makan” disini bisa diartikan secara umum ataupun khusus, seperti makan nasi dsb. Sedangkan “makanan” bisa diartikan lauk-pauknya atau jenis-jenis makanan yang lain).

Pernah sekali waktu saya bertamu pada salah seorang warga desa disana, yang letak rumahnya tidak jauh dari Posko. Selepas menunaikan shalat isya sekitar pukul 19-an, dari posko saya langsung bergegas menuju rumah warga yang hendak saya temui itu. Dengan maksud ingin memberitahukan kepadanya bahwa disekitaran kampungnya saat ini sedang ada mahasiswa yang hendak mengadakan kegiatan KKN. Sekalian juga sambil minta izin dan silaturahim dengan seluruh keluarganya, pasalnya dia adalah seorang penasihat Karang Taruna di desa itu.

Yopi namanya, atau yang lebih dikenal dengan panggilan “kang Yopi”. Kang Yopi adalah seorang yang ditinggal ayahnya semenjak ia masih usia remaja. Kini ia tinggal bersama sang ibu dan seorang adik perempuan berusia 12 tahun-an, serta seorang Istri yang saat itu tengah mengandung untuk yang kedua kalinya, setelah dulu pada waktu hamil pertamanya istrinya sempat keguguran.

Setelah cukup lama saya bercakap-cakap dan mengutarakan maksud kedatangan, saya pun kemudian diajaknya untuk makan malam bersamanya. Kebetulan pada saat itu diantara penghuni rumah hanya dia (kang Yopi) yang belum sempat makan malam. Tidak berselang lama, sajian makan malampun disuguhkannya lalu ia mempersilahkan saya untuk bersama-sama makan dengannya.

Ada sesuatu yang unik pada saat itu yang membuat saya terkesan hingga saat ini. Tentunya bukan karena sajian menu makanannya yang mereka bilang “gak bagus (jelek)”, melainkan cara mempersilahkannya yang tak pernah saya dapati sebelumnya. Dengan santun ia mengatakan “Silahkan de dimakan, mungkin makanannya gak bagus tapi mudah-mudahan nikmat”. Spontan hati saya terkesima mendengarnya. “Kata-katanya sederhana namun mengandung makna yang berbobot”, hati saya berbisik sat itu. Padahal makanan yang disajikannya pun untuk orang sekelas saya mungkin sudah kebagusan (Ayam goreng, sayur lodeh dan kerupuk udang). Namun begitulah cara menghargai anugerah Tuhan, bukan pada jenis manakannya yang nampak melainkan pada kenikmatannya yang abstrak.

– – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – –

Ternyata yang lebih mahal bukan harga makanannya melainkan harga kenikmatannya. Makanannya kita bisa beli dan pilih sesuka hati, namun letak kenikmatannya kita tidak pernah tau. Kita tidak pernah mengetahui dari jenis makanan yang mana letak kenikmatan sebuah makanan tersimpan. Ini bisa sedikit dibuktikan dengan adanya perbedaan makanan kesukaan diantara kita yang cukup beragam.

Kita pun bisa membuat aneka rasa makanan yang beragam, tetapi kita tidak bisa menciptakan rasa nikmatnya. Sebab yang membuat seseorang merasakan kenikmatan sebuah makanan bukan pada apa yang sedang ia makan tetapi Allah-lah yang memberikan. Bisa saja kita memilih jenis-jenis makanan mewah yang menggoda mata selera, namun jika Allah tidak mengizinkan kenikmatannya terasakan tentunya akan terasa ada yang kurang.

Maka dari itu, sudah sepatutnyalah kita untuk lebih mensyukuri segala kenikmatan yang telah Allah berikan kepada kita selama ini. Apapun yang kita makan atau dengan apapun kita makan, asalkan itu halal dan menyehatkan kita nikmati dan syukuri saja. Selanjutnya kita bisa minta supaya Allah menaburinya dengan bumbu kenikmatan yang mengandung keberkahan, insya Allah akan kita rasakan citarasa nikmatnya sebuah makanan. Sekalipun kita makan hanya dengan ikan asin, tumis kangkung atau tempe goreng. 😀

Sebetulnya kita tak perlu mengeluhkan jenis makanannya. Selama masih ada dan tersedia yang bisa kita makan, kenapa musti dikeluhkan?. Yang perlu untuk lebih kita perhatikan adalah kualitas kehalalannya. Sebab makanan yang kita butuhkan bukan sekedar yang dapat mengenyangkan perut semata, tapi juga yang bisa menyelamatkan. Mau gak makan makanan mewah yang harganya mahal tapi hasil curian?

Ada tempe kita makan ada daging apalagi hehe, yang penting kita sama-sama makan. Yang sukanya makanan mahal gak perlu usilan sama yang sukanya makanan murah, apalagi sampai ngatain selera kampungan. Yang penting kita sama-sama nikmat. Bener gak? 😀

Semoga setiap momen yang pernah kita lalui bersama senantiasa mengilhami dan menjadikan pribadi kita lebih dewasa dalam bersikap. Aamiin.

Love You All ^^

_Diay Haurngombong_

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s