Bocah Trotoar…(I)

anak

Bermula dari ide pembuatan papan tulis untuk kenang-kenangan. Saya, kang Dikdik, kang Dede dan Pak Arman harus membawa papan mentahannya dari pabrik tempat dimana pak Arman bekerja di kawasan Rancaekek, Bandung, yang letaknya tak jauh dari rumah tempat pak Arman tinggal.

Dengan menggunakan sepeda motor, kami diharuskan membawa tiga bilah papan berukuran 2 x 1,5  meter secara berpasangan. Satu orang mengendarai satu orangnya lagi memangku papan tersebut dibelakang. Satu pekerjaan yang terbilang rumit dan bisa membahayakan. Bayangkan saja, papan sepanjang itu memalangi separuh lebar jalan yang hendak kami lalui, harus kami bawa diatas motor menerobosi halu-lalangnya kendaraan. Belum lagi terpaan angin jalanan pada papan tersebut yang seolah ditamengi membuat laju motor yang dikendarai sering terseok tak seimbang. Selain itu, jarak tempuhnya yang juga tidak dekat.

Hanya beberapa ratus meter saja kami coba paksakan membawanya, sebelum akhirnya kami berhenti dan memikirkan kembali cara lain yang tidak terlalu beresiko besar. “Lebih baik kita urungkan saja membawa papan ini, daripada nanti kita celaka.!” ungkap saya diatas motor dengan sedikit berteriak pada mereka yang juga terlihat sempoyongan. Sambil mencari area yang pas untuk berhenti, kami masih terus coba mempertahankan laju motor dengan sangat hati-hati. Segera kami menepi dan berhenti setelah menemukan area yang cukup leluasa untuk menurunkan beban yang sedang kami bawa.

Di pinggiran jalan itu, kami sempat berdiskusi sebentar, lalu kami memutuskan untuk membagi dua terlebih dahulu dari masing-masing papan tersebut guna mempermudah cara membawanya serta untuk mengantisipasi kemungkinan terjadinya sesuatu yang tak diharapkan ditengah perjalanannya nanti. Mengingat jarak yang harus kami tempuh masih sangat jauh.

Namun dikarenakan tak ada seorangpun dari kami yang saat itu membawa gergaji, terpaksa pak Arman harus putar balik kembali mengambil alat yang diperlukan dari rumahnya. “Biar saya balik dulu ke rumah untuk ambil gergaji”, ungkap pak Arman kepada kami. Tanpa pikir panjang, pak Arman yang saat itu berboncengan dengan Kang Dede segera menurunkan papan yang dibawanya, kemudian saat itu juga ia langsung pergi lagi. Sementara saya dan kang Dikdik menunggui papan-papan yang kami turunkan. Beruntung lokasi rumah pak Arman belum terlalu jauh dari tempat kami berhenti. “Mudah-mudahan saja tidak terlalu lama kami harus menunggu, sebab menunggu adalah pekerjaan yang paling tidak saya sukai” pikir saya saat itu agak kesal.

Cerita baru dimulai disaat-saat penantian kembalinya mereka (pak Arman dan kang Dede).

Dipinggiran jalan raya yang menghubungkan Rancaekek dan Cicalengka, saya dan kang Dikdik duduk berteduh dibawah rindang pepohonan yang memagari sepanjang tepi jalanan itu. Hembusan angin yang tersibak hilir mudiknya kendaraan meniupi wajah kami yang keringatan. Sembari menyandarkan bahu pada dinding tembok sebuah bangunan, kami nikmati kesegarannya, berharap sang angin dapat mendinginkan tenggorokan kami yang saat itu sudah terasa mengering. Diselingi dengan sedikit bercakap-cakap, sesekali saya hembuskan napas panjang, mencoba merelaksasi emosi yang sempat terasa sedikit naik.

Disela-sela menikmati suasana penantian, tiba-tiba terdengar suara anak kecil memelas tepat disamping telinga kanan kami. “ka, minta uang..!”, suara itu terdengar tak jauh dari tempat duduk kami. Serentak saya dan kang Didik menoleh kearah datangnya suara tersebut dengan kompak. Rasa keget menghentak seketika, ternyata disamping kanan kami seorang anak perempuan kecil tengah berdiri sambil mengulurkan tangan mungilnya kearah wajah kami. “minta uang ka, buat jajan..!”, lagi-lagi anak itu memelas.

Sejenak saya dan kang Dikdik pun tertegun saling menatap, raut wajah kami menandakan saling mengandalkan siapa yang harus bertanggung jawab memenuhi permohonan anak itu. Akhirnya saya pun mengerti, tatapan matanya yang kosong mengatakan bahwa saat itu ia (kang Dikdik) sedang tidak membawa uang. Kendati demikian, saya sendiri pun kebingungan. Uang disaku sudah dijatahkan untuk biaya persiapan perjalanan kami pulang ke Posko. Bahkan untuk sekedar mengganjal rasa haus dan lapar yang dirasakan saat itu pun tidak berani saya mengambilnya. Takutnya diperjalanan nanti motor kami mengalami bocor ban, kehabisan bahan bakar atau yang lainnya. Situasi yang dirasa saat itu membuat saya berpikir duakali untuk memberikan uang pada pengemis kecil itu. Namun disisi lain rasa ingin memberi pun turut muncul dari nurani.

Ditengah kegalauan itu, sejenak saya perhatikan kembali bocah kecil itu baik-baik. Dari ujung kaki hingga ujung kepala saya tatapi dirinya dengan seksama. Mengingat saat ini suka banyak modus penipuan yang kerap dilakukan para penipu ulung dengan mempergunakan anak-anak kecil sebagai alat.

Namun hasil pengamatan menunjukan bahwa saya harus menepis jauh-jauh pikiran negatif mengenai anak itu. Wajahnya polos dan ia terlihat bersih. Kaos kuning berpolet biru dengan celana setengah kaki dan sandal jepit yang dikenakannya tidak menandakan bahwa ia seorang pengemis apalagi yang hendak menipu. Layaknya anak-anak kecil lainnya, model pakaian yang dikenakannya tidak jauh berbeda. “Anak ini tidak terlihat seperti pengemis yang sering saya temui dipasar-pasar”, pikir saya waktu itu sambil terus memandanginya. Rasa penasaran pun muncul, ingin mengetahui lebih banyak tentang dirinya. Juga ingin mengetahui apa yang melatarbelakanginya hingga ia menjadi seorang pememinta kelas pemula.

 _Diary Haurngombong_

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s