Bocah Trotoar… (2)

Hasil pengamatan mengatakan bahwa saya harus menepis jauh-jauh pikiran negatif mengenai anak itu. Wajahnya polos sikapnya lugu. Kaos kuning berpolet biru dengan celana setengah kaki dan sandal karet bergambar kelinci yang dikenakannya tidak menandakan bahwa ia seorang pengemis apalagi yang hendak menipu. “Anak ini tidak terlihat seperti pengemis”, pikir saya waktu itu sambil terus memandanginya.

Rasa penasaran pun muncul, ingin mengetahui lebih banyak tentang dirinya. Beruntung disaku jaket saya dapati uang recehan. “mungkin ini cukup buat beli permen”. Gumam saya dalam hati sambil menaruhnya diatas tangan mungil bocah itu. Kemudian saya coba mengajaknya sedikit berdialog. Beberapa pertanyaan saya lontarkan guna mengorek keterangan lebih jauh tentang diri dan keluarganya

Namanya Novi. Bocah perempuan kecil berusia 6 tahun itu tinggal dikampung ujung yang letaknya cukup jauh dari tempat kami berada ketika itu. Untuk sampai ketempat kami, ia harus mengayuhkan kaki kecilnya sejauh beberapa kilo meter. Dibawah panasnya sengatan mentari dengan menyusuri trotoar jalanan.

Saat ini ia tinggal bersama kedua orang tuanya yang hanya bekerja sebagai tukang kuli. Keadaan ekonomi keluarganya membuat Novi jarang sekali mendapat jatah uang jajan. Tidak seperti anak-anak lainnya yang selalu mendapati jatah jajan harian dan menghabiskan waktunya ditaman permainan yang menyenangkan. Ia justru bermain sendirian di sepanjang tepi jalan, berharap belas kasihan dari orang yang melihatnya untuk mendapati sepeser uang agar ia bisa jajan seperti teman-temannya yang lain. “orang tua saya sering tidak ada dirumah, mereka selalu sibuk diluar mencari uang buat makan” ungkapnya lirih.

Mendengar penuturannya yang polos itu, mendadak sekujur tubuh terasa lemas, hati terenyuh terbawa getaran keprihatinan atas nasib yang dialami anakmungil itu. Tanpa pikir panjang, segera saya rogoh uang jatah perjalanan itu lalu saya berikan kepadanya. Kemudian saya tuntun anak itu agar ia berkenan mendoakan dan memohonkan kebaikan untuk diri saya, kita tidak pernah tahu doa siapa dan doa yang mana yang akan Allah kabulkan untuk kita. Dalam hati saya berkata: “sesungguhnya Allah lebih dekat denganmu nak, semoga doa darimu untukku Allah kabulkan dan semoga Allah selalu menyertai perjuanganmu dalam menghadapi kejamnya dunia”,

Setelah itu anak itupun pergi melanjutkan perjalanannya yang entah kemana. Sementara saya tak goyah berdiri mematung menatap punggung bocah kecil itu mengayuh langkah gontainya menyusuri trotoar jalanan.

Terkadang keadaanlah yang memaksa mereka menjadi anak jalanan. Padahal seharusnya, anak sekecil itu menikmati masanya ditengah-tengah belaian dan keriangan keluarga, menikmati asiknya bermain bersama teman-temannya. Namun kenyataan demikian ternyata tidak berpihak kepada sebagia anak yang mungkin saat ini tak jauh dari pandangan kita.

 _Diary Haurngombong_

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s