Ahlan Wasahlan

GND2Assalamu’alaikum Wr.Wb.

Selamat datang sahabatku. Syukran atas kunjungan sahabat fillah semuanya. Semoga Blog sederhana ini dapat menjadi wasilah untuk saling memper erat ikatan ukhuwah kita, Serta dapat menjadi jalan berbagi ilmu dan amal kebaikan. Aamiin

Iklan

Stop! Don’t touch me baby “Sebelum aku engkau nikahi”

Stop! Don’t touch me baby “Sebelum aku engkau nikahi”

“Dan janganlah kamu mendekati zina; sesungguhnya zina itu adalah suatu perbuatan yang keji dan suatu jalan yang buruk.” (Al-Israa : 32)

Pernah lihat gak seoarang akhwat dan ikhwan yang beda mahram ketika mereka sedang jalan bergandengan tangan kesana kemari dengan mesranya, ada juga yang mojok berdua-duaan di kesunyian sambil pengang-pegangan. Bahkan ditengah keramaian orang pun seakan tak ada lagi rasa malu baginya untuk saling berciuman?. Naudubillahimindzalik. Bentuk berjabatan tangan saja yang dengan alasan silaturahmi ataupun sekedar salam penghormatan, jika itu dilakukannya dengan orang yang bukan mahram sudah dimurkai Allah. Apalagi jika lebih dari itu. Konyolnya kemudian mereka merasa bahwa yang dilakukannya itu adalah demi orang yang dicintainya, itu sebagian dari pembuktian kecintaan terhadapnya. Ups! lagi-lagi cinta menjadi korban dari tipu daya nafsu dan setan. Benar apa kata Ustd. Salim A Fillah yang mengatakan: “Betapa para penipu menggunakan kata cinta untuk mewakili nafsu keji yang mereka selumutkan sepanjang proses pendahuluan sampai zina yang disebut pembuktian cinta.” Astaghfirullah…

Sahabatku, bukankah kita telah mengetahui cinta itu fitrah?. Maka jagalah kefitrahannya. Seperti yang pernah saya tulis di posting sebelumnya, pengorbanan cinta bukanlah kerelaan untuk melakukan sesuatu yang buruk demi menuruti permintaan orang yang dicintai, jangan jadikan cinta sebagai alasan terciptanya kenistaan. Pengorbanan cinta ialah dimana engkau rela melakukan sesuatu karna itu baik untuk kalian dan tega menolak sesuatu karna itu buruk untuk kalian. Selamanya kodrat cinta akan selalu menuntut dan berupaya membuat senang orang yang dicintainya namun kesenangannya tidak selamanya berarti kebaikan baginya. Boleh jadi yang dirasa baik itu hanyalah menurut hawa nafsu. Dan kesungguhan cinta bukan harus dibuktikan dengan prilaku tercela dan sifat kekanank-kanakan, melainkan dibuktikan dengan pernikahan. Engkau rela menuruti ajakan menyimpang orang yang engkau cintai bukan berarti itu membuktikan kecintaan engkau terhadapnya. Melainkan engkau telah merendahkan derajat diri sendiri dari niat busuk setan yang ingin melecehkan kehormatanmu. Cinta yang fitrah itu yang saling menjaga kesucian diri satu sama lain, bukan yang saling mengotori. Bukankah hati nuranimu sering berbisik dengan mengatakan “aku menginginkan belahan jiwa yang suci”? Maka selayaknyalah engkaupun menjaga kesucian dirimu sendiri. Menginginkan belahan jiwa yang suci tanpa menjaga kesucian diri sendiri hanyalah mimpi disiang bolong. Masih ingat kan ayatnya?. “..Wanita yang baik adalah untuk lelaki yang baik dan laki-laki yang baik hanyalah untuk wanita yang baik…” (An Nur 26). Nah yang sucipun hanya untuk yang suci. Jalan mana lagi yang harus dilakukan untuk mendapatkan yang suci selain dengan cara menjaga kesucian diri sendiri.

Jika kita ibaratkan tangan seorang wanita seperti kertas putih yang bersih, maka satu sentuhan tangan lelaki yang bukan mahramnya tanpa terhijab sama dengan coretan tinta hitam yang menggoresi lembaran kertas sebelum si penulisnya tiba. Semakin sering tergores semakin rocet, semakin rocet semakin hilang nilai guna kertas itu untuk dijadikan lembaran tulisan bagi si penulis. Jika kertas itu sudah rocet sebelum penulisnya datang, apa yang dapat engkau berikan ketika nanti sipenulis yang bertugas menulis disana telah benar-benar datang?. Bagaimana mungkin si penulis mau menuliskan untaian kata-kata dengan pena dan tinta emasnya itu diatas kertas yang sudah rocet. Bingung ya?. Begini maksudnya, jika kesucian dirimu telah terkotori sebelum ikatan pernikahan, lalu apa yang dapat engkau persembahkan jika suatu hari engkau menemukan seseorang yang benar-benar engkau pilihkan untuk kebahagiaan rumah tanggamu kelak?. Apalagi jika sidia yang engkau pilihkan itu adalah seorang yang benar-benar terpilih yang engkau yakini kesucian dan keshalihannya. Jika benar-bedar ia masih suci, sulit juga rasanya ia mau membersamai yang telah terkotori?. Hmm padahal si dia yang suka pegang-pegang itu juga kan belum tentu menjadi suamimu. Kalaupun jadi ya itu wajar saja dan pantas memang, berarti satu-satu, atau sama-sama. . . . . (ya gitu deh) hehe.

Sabarlah sahabatku, Allah pasti menjadikan sesuatu yang kita ingini itu indah jika ia telah meridhai dan sudah tepat pada waktunya. Namun jika kita lebih memilih mentergesai sebelum saatnya tiba, ini hanya akan mengundang konsekuensi terbalik. Suami istri yang saling pandang dan saling berpegangan tangan itu mah bagus. Mereka sama saja dengan mengundang turunnya rahmat Allah dan menggugurkan dosa-dosanya melalui sela-sela jari-jemari mereka. Pahalalah yang akan mereka dapati.  Lha kalau ini terjadinya bukan pada suami istri atau terjadi sebelum pernikahan?. Pandangannya bukan mengundang rahmat melainkan mendatangkan laknat, pegangan tangannya bukan menggugurkan dosa melainkan mempertebal dosa. Yang akan diterima bukanlah pahala melainkan siksa. Tuh kan terbalik?.

Diriwayatkan oleh Abu Hurairah ra. bahwa Nabi saw. bersabda: “Sesungguhnya Allah telah menentukan kadar nasib setiap manusia untuk berzina yang pasti akan dikerjakan olehnya dan tidak dapat dihindari. Zina kedua mata ialah memandang, zina lisan (lidah) ialah mengucapkan, sedangkan jiwa berharap dan berkeinginan dan kemaluanlah (alat kelamin) yang akan membenarkan atau mendustakan hal itu.” (Shahih Muslim No.4801)

Sahabatku, ternyata betapa diri kita ini sudah jelas membuka kesempatan untuk memungkinkan diri bermaksiat sampai berzina. Alqur’an sudah lebih dulu mewanti-wanti kita agar tidak mendekati zina. Karena itu adalah suatu perbuatan yang keji dan suatu jalan yang buruk. Hal ini lah yang kemudian harus ditakuti agar kita selalu waspada dan berhati-hati. Segeralah kita tutup rapat-rapat celah yang memungkinkan setan dapat masuk dan membabibuta, menggoda kita untuk bermaksiat. Tutup serapat mungkin sebelum diri menjadi bulan-bulanan setan yang hendak mejerumuskan. Jika tidak?. Jika tidak maka pihak ketiga (setan) yang tertawa, ia leluasa untuk membuat kita binasa. Kita lihat kemungkinannya: awalnya mungkin hanya ketemuan, kemudian saling pandang. Esok hari mulai berani pegang-pegangan dilanjut belai-belaian. Lusa nanti berani minta kiss-kissan, jika sudah begitu bukan tidak mungkin dikemudian hari berani untuk. . . dan . . . Eits! gak boleh di bayang-bayangkan! heheIngat, setan itu akan selalu membuat penasaran demi menciptakan dan meningkatkan bobot kemaksiatan yang lebih buruk. Astaghfirullahal’adzim. La illaha illa Anta, subhanaka inni kuntu minadzalimin.

Jaga kesucian diri untuk mendapati belahan jiwa yang suci, jangan biarkan kertas putih itu tergoresi tinta hitam yang menodai. Apalagi jika sampai di sobeknya. Biarlah nanti si penulis yang terpilih saja yang akan mengukir untaian kata-kata indah dengan torehan pena dan tinta emasnya pada  lembaran kertas suci itu diatas meja pernikahan. Namun jika sebelum pernikahan, jika si dia terlihat mulai beraksi segeralah katakan: “stop! Don’t touch me baby sebelum aku engkau nikahi.” Berani?

 

Sebelum diijab kabulkan syari’at tetap membataskan

pelajari ilmu rumah tangga agar kita lebih bersedia

menuju hari yang bahagia

(Hijjaz, Kasih Kekasih)

Celaka dibalik Cinta

Sewaktu masa-masa SMA dulu, ada salah seorang teman saya yang bisa dibilang fanatik dengan yang namanya ‘pacaran’. Atau bisa juga disebut orang yang ‘anti pacaran’. Bilamana obrolan dengan teman-temannya menyinggung masalah pacaran, atau ketika melihat ada tema ikhwannya yang terlihat sedang berkholwat (berdua-duaan) dengan akhwat maka saat itu juga dengan tegasnya ia langsung berkata, “Tidak ada Pacaran dalam Islam, pacaran haram hukumnya”. Begitu ungkapnya. Tidak jarang mereka yang kesindir merasa malu dibuatnya.

Namun sayangnya komitmen ‘Anti Pacaran’ yang ditanamkan dan di syi’arkannya itu tidak dipegangnya dengan keteguhan. Syetan mulai beraksi. Ah syetan memang tukang goda paling hebat ahli rayu paling jitu dalam hal menggelincirkan umat manusia kedalam jurang kenistaan yang menghinakan.

Suatu hari teman saya itu menaruh hati pada seorang akhwat  satu sekolahannya. Tidak ada yang salah memang dengan perasaannya. Namun yang disayangkan adalah realisasi dari perasaannya tersebut. Dikemudian hari ia ternyata dipergoki teman-temannya tengah jalan berdua dengan akhwat yang dicintainya itu. Gempar sudah kabar tentang dirinya. Penghormatan yang di suguhkan oleh teman-temannya atas dakwah-dakwahnya berbalik menjadi cacian dan penghinaan yang menyakitkan. Astaghfirullah

Begitulah jika cinta tidak dijaga, lengah menjaga cinta dapat membuat seseorang celaka. Terkadang kesenangan yang ditawarkan cinta membuat terlena hingga tak menyadari padalah cintanya telah dibuat media syetan yang hendak membibasakan. Dari kisah diatas kita dibuat mengerti betapa syetan itu menggoda manusia dengan berbagai siasat dan dari segala arah kepada siapapun dan dimanapun. Apa yang sebelumnya dilihat sebagai keindahan yang akan membahagiakan ternyata hanya berbuah sesal dikemudian. Syetan itu penipu ulung, “Syaitan itu memberikan janji-janji kepada mereka dan membangkitkan angan-angan kosong pada mereka, Padahal syaitan itu tidak menjanjikan kepada mereka selain dari tipuan belaka.” (An-Nisa : 120)

Sahabatku, sedikit apapun celah yang kita anggap wajar dapat menjadi ruang yang besar yang mengundang datangnya kegombalan syetan yang hendak membinasakan. Baru kepergok jalan berdua saja sudah membuatnya terhinakan, bagaimana jika lebih dari itu?. Hmm ternyata jangankan yang masih awam dengan pengetahuan agama, anak pesantrenanpun kini telah banyak kita temukan yang akhirnya tergelincir kedalam lembah kemaksiatan. Kepribadiannya menjadi bertolak belakang dengan apa yang orang lain bayangkan. Kesenangannya hanya dirasa sekejap namun kehinaan dan kerendahan derajat dihadapan orang banyak menjadi cacian yang berkepanjangan. Astaghfirullahal’adzim, “aku berlindung kepada Allah dari godaad syetan.

Sebaliknya mereka yang tetap teguh dalam mengelak dan menolak akan rayuannya syetan, Allah membalasnya dengan memuliakan dirinya. Mengangkat derajatnya dan menggantinya dengan memberi kebahagiaan yang nyata, yang diridhai-Nya, yang lebih nikmat dari apa yang ditawarkan syetan si pendusta.

Kisah Yusuf yang rela memilih penjara daripada meladeni tipudaya syetan yang merasuk melalui kemolekan Julaekha telah memberi gambaran dimana Allah memuliakan seseorang yang tetap berpegang teguh pada tali buhul agama-Nya.

“Dan wanita (Zulaikha) yang Yusuf tinggal di rumahnya menggoda Yusuf untuk menundukkan dirinya (kepadanya) dan dia menutup pintu-pintu, seraya berkata: “Marilah ke sini.” Yusuf berkata: “Aku berlindung kepada Allah, sungguh tuanku telah memperlakukan aku dengan baik.” (Yusuf : 23).

Berkat keteguhannya pada komitmen atas kebenarannya agama, Allah pun mengakui dan mengabadikan kemuliaan akhlaknya dalam Al-Qur’an, “Sesungguhnya Yusuf itu Termasuk hamba-hamba Kami yang terpilih.” (Yusuf : 24)

“ Yusuf berkata: “Wahai Tuhanku, penjara lebih aku sukai daripada memenuhi ajakan mereka kepadaku. dan jika tidak Engkau hindarkan dari padaku tipu daya mereka, tentu aku akan cenderung untuk (memenuhi keinginan mereka) dan tentulah aku Termasuk orang-orang yang bodoh.”( Yusuf : 33)

Kemudian kisahnya Khalid al-Miski yang lebih suka melumuri tubuhnya dengan kotorannya sendiri demi menghindari tipudaya dan godaan seorang gadis cantik kala itu. Berkat rasa takutnya berbuat durhaka pada Allah, kemudian Allah pun menggantinya dengan keharuman pada tubuhnya seharum minyak kasturi (misk). Hingga ia dijuluki Khalid al-Miski atau Khalid si kasturi.

Sedih berbalas pahala lebih baik daripada bahagia berbuah dosa
berlalu dalam keharuan lebih indah dibanding bersama dalam kenistaan
derita cinta bukan karena cinta tak berbalas atau cinta yang terpisah
melainkan cinta yang menuai dosa
hidup tanpa cinta hampa terasa
namun cinta tanpa agama hanya membuat manusia celaka
 
“Sesungguhnya syaitan itu adalah musuh bagimu, Maka anggaplah ia musuh(mu), karena Sesungguhnya syaitan-syaitan itu hanya mengajak golongannya supaya mereka menjadi penghuni neraka yang menyalanyala.” (Fathir : 6)

Remaja, Cinta dan Dunia Maya

Remaja, Cinta dan Dunia Maya

Tak dapat dipungkiri, masa remaja adalah masa yang penuh warna suasana dalam hidup seseorang. Dimana pada masa-masa ini ia mulai menggali dan mengenali jati diri untuk  memperkenalkan kepribadian serta menunjukan kebolehannya. Ustd. Salim A. Fillah dalam buku NPSPnya mengatakan pada masa remaja hidup seseorang dipenuhi dengan sifat-sifatnya yang beragam. Sok romantis, Egois, Manja, Agresif, Jutek dan Afeksional.

Lebih identik lagi di masa remaja ini dengan masanya reaksi serangan ‘merah jambu’ atau yang lebih dikenal dengan cinta. Sebab dimasa ini kadar egoisme dan emosionalnya masih meninggi maka, ketika dirinya mulai mengalami yang namanya jatuh cinta kebanyakan diantara mereka merealisasikannya dengan sikap serta perkataan yang keliru dan ceroboh. Semua ragam penerjemahan tentang cinta  diapresiasikannya dengan rasa bangga dan gagah melalui berbagai tingkah dan cara. Tidak hanya dengan perbuatan, tetapi juga melalui lisan dan tulisan. Tanpa memikirkan akibat baik buruk, maslahat dan madharatnya, apapun suasana hati saat itu dipetuturkannya dengan tok blak bin vulgar tak peduli orang lain mau berkata apa.

Fakta sederhana yang sering kita jumpai semisal di dunia maya. Facebook, twetter, MySpace, friendster dan sejumlah situs jejaring sosial lainnya seakan dijadikan salah satu sarana dan prasarana untuk mencurahkan segala bentuk perasaan yang sedang dirasakannya. Banyak kita temukan berbagai status atau update-an yang mengabstraksikan suasana hati mereka dalam padanan bahasanya yang beraneka ragam. Tulisan-tulisan yang mengungkapkan kebahagiaan, kesedihan, amarah, kegelisah dan berbagai suasana hati lainnya  dengan begitu gamblang dan gampangnya mereka publikasikan. Bahkan tak jarang bahasa-bahasa kebun binatang dan kata-kata tak senonoh pun nimbrung dalam meracuni akhlak serta mengotori hati dan fikiran. Tak dapat disangsikan fenomena demikian itu kerap dilakukan oleh para remaja yang terpicu  karena perasaan cinta yang masih bermakna dusta. sungguh memprihatinkan. Afwan saya tidak bisa mencantumkan atau menuliskan contohnya disini. Silahkan anda coba perhatikan sendiri disana.

Ingatlah sahabat, keromantisan kata dan kemanjaan sikap dua insan yang saling mencintai sebelum terikat pernikahan tak lebih dari sekedar berlebay-lebayan. Tidak ada makna keindahan disana selain menunjukan identitas keberdosaan.

Meski tidak semua remaja berlaku demikian, namun rasanya apa yang kita temukan ini cukup membuat kita miris. Lisan dan tulisan begitu indah dan ringan ketika menuturkan bahasa-bahasa keromantisan tentang cinta yang masih tabu dan palsu. Namun lain halnya jika harus berucap atau menuliskan bahasa-bahasa dakwah dan kalamullah yang mulia dan memuliakan. Lidah dan tangan seakan begitu berat dan enggan untuk melakukan. Astaghfirullah…

Jabir Ibnu Abdullah Radliyallaahu ‘anhu berkata: Adalah Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam bila berkhotbah memerah kedua matanya, meninggi suaranya, dan mengeras amarahnya seakan-akan beliau seorang komandan tentara yang berkata: Musuh akan menyerangmu pagi-pagi dan petang. Beliau bersabda: “Amma ba’du, sesungguhnya sebaik-baik perkataan ialah Kitabullah (Al-Qur’an), sebaik-baiknya petunjuk ialah petunjuk Muhammad, sejelek-jelek perkara ialah yang diada-adakan (bid’ah), dan setiap bid’ah itu sesat.” (Diriwayatkan oleh Muslim)

Sahabatku, interaksi di dunia maya saat chat maupun update tidak hanya mampu menggambarkan karakteristik kepribadian pelakunya, tetapi juga sangat memengaruhi tabi’at, tingkah laku dan life style orang lain yang diajak berinteraksi. Maka berhati-hatilah.

Alangkah indah dan agungnya jika pada saat kita berhijrah ke dunia maya yang di updatekan adalah ajakan-ajakan dan nasihat-nasihat tentang kebaikan dan kebenaran. Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma’ruf, dan mencegah dari yang munkar, dan beriman kepada Allah.” (Q.S. Ali Imran : 110).

Dan bukankah kita sendiri telah menyadari bahwa: “Sesungguhnya manusia itu benar-benar dalam kerugian, Kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh dan nasehat menasehati supaya mentaati kebenaran dan nasehat menasehati supaya menetapi kesabaran.”(Q.S. Al ‘Ashr : 2-3)

Sahabatku, Jika itu yang kita lakukan, maka insya Allah kita akan terhindar dari dosa dan madharatnya dunia maya. Jalinan ukhuwah dengan sesama pun akan semakin terbina. Mari kita ciptakan visi misi positif yang mensyi’arkan kebaikan. Saatnya kita jadikan dunia maya sebagai salah satu sarana media dakwah demi mencerahkan peradaban dunia. Dan demi meraih keridhaan Allah, Tuhan semesta alam. Allahu akbar..! Baca lebih lanjut

Engkau cantik tapi…

Berbicara tentang kecantikan atau ketampanan itu berarti secara ilmiah mata telah tertuju pada wilayah keindahan lahiriyah. Ibnu Qayyim mengatakan, keindahan lahir adalah hiasan yang secara khusus diberikan Allah kepada sebagian rupa, dan sebagian lain tidak diberi-Nya. Hal ini termasuk tambahan dalam penciptaan-Nya. sebagaimana firman-Nya,

“. . . Allah menambahkan pada ciptaan-Nya apa yang dikehendaki-Nya. Sesungguhnya Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu” (Al-Fathir : 1)

Ya, kecantikan yang terukir pada rias wajah para akhwat patutlah untuk disyukuri, begitu pula ketampanan menawan yang ter pampang di wajah para ikhwan. Semua itu adalah anugerah yang Allah berikan terhadap makhuk ciptaan-Nya, dimana Ia menciptakan manusia dengan sebaik-baiknya rupa. “sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya” (Q.s. Attin : 4).

Akan tetapi, keindahan yang tampak dimata bukanlah satu tolak ukur yang mampu membedakan manusia itu baik tidaknya dirinya. Orang yang cerdas dalam mencintai tidak hanya melihat pada satu faktor keindahannya saja. Tetapi ia mampu meninjaunya dari berbagai sisi dari sudut pandang yang lain terutama pada akhlak dan agamanya. Ia dapat menghadirkan dialog antara logika dan perasaannya untuk sebuah pertimbangan.

Kecantikan memang menarik hati, namun itu belum tentu dapat menghadirkan ketenangan batin. Ketampanan memang memikat namun itu pun belum tentu mampu menjamin kedamaian jiwa. Yang cantik dan yang tampan bukan berarti itu baik. Akan tetapi kemuliaan akhlak itulah yang baik. Akhlak yang baik dapat menjadikannya cantik, pribadi yang indah dapat membuatnya rupawan. Kesalihan, itulah jaminan untuk menuju kebahagiaan bersama pasangan. Ibnu Qayyim Al-Jauzziyah dalam bukunya “Taman Orang-orang Jatuh Cinta dan Memendam Rindu” mangatakan: Kesesuaian yang asli adalah kecocokan akhlak, persamaan jiwa, kerindian satu jiwa terhadap jiwa yang cocok dengannya. Hal ini pula yang kemudian mendorong sebagian orang berkata: “cinta tidak tumbuh karena alasan keindahan dan keelokan, sehingga jika tiada keindahan dan keelokan, tiada pula cinta. Tetapi cinta adalah kesesuaian jiwa dan kecocokan tabiatnya.”

Nah, engkau para ikhwan yang saat ini tengah terpesona dengan kecantikan yang engkau anggap tak bisa tergantikan, atau engkau para akhwat yang sedang tertawan hatinya lantaran ketampanannya yang rupawan. Tak seharusnya engkau terlalu mengedepankan perasaan sebab hanya melihat keindahan. Cobalah beri sedikit waktu kepada akal untuk mempertimbangkan apakah dia yang cantik itu baik atau dirinya yang tampan itu baik?. “Engkau cantik tapi . . .”, atau “engkau tampan tapi . . .” keputusan akhirnya tentu engkau sendiri yang lebih tau mana yang kemudian harus ditentukan. Afwan sahabat, bukan saya bermaksud menyuruh untuk tajasus. Sekali lagi, hal ini dimaksudkan sekedar untuk mempertimbangkan sebuah pilihan sebelum engkau mengambil keputusan. Kita yang menjalani hidup maka kita sendiri yang akan merasakan kebaikan dan keburukan atas apa yang telah kita putuskan.

Untuk para ikhwannya masih ingat kan hadist ini?.

Nabi saw bersabda: “Perempuan itu dinikahi karena empat hal, yaitu: harta, keturunan, kecantikan, dan agamanya. Dapatkanlah wanita yang taat beragama, engkau akan berbahagia.” (Muttafaq Alaihi dan Imam Lima)

Sahabatku, Janganlah engkau bersempit pandangan dengan memilih cinta yang hanya sebatas indah dimata cobalah untuk sedikit berkaca pada realita. Bayak diantara mereka yang akhirnya harus tersiksa setelah menjalaninya. orang-orang yang gagal dalam cinta ialah mereka yang mengawali cintanya karena nafsu dan emosi semata, baru logika bicara setelah ia rasa menderita. Kecantikan rupa itu penting, kecantikan harta itu juga penting, kecantikan akhlak itu yang lebih penting. Meski dirinya tak begitu cantik namun memiliki pribadi yang baik tidak akan menyulitkannya untuk dicintai. Dan mendapatkan pasangan yang baik adalah satu kepantasan bagi orang yang memiliki pribadi baik. Insya Allah hal ini akan kita bahas pada post berikutnya.

Tahan sejenak rasa yang hendak diungkapkan
hadirkan dialog antara logika dan perasaan untuk mempertimbangkan
mintalah petuah pada orang-orang yang dapat menunjukan kebenaran
libatkan selalu Allah dalam setiap urusan
siapa tau dia bukanlah sebaik-baik pilihan
kebaikan tugas bersama untuk saling mengingatkan
hidayah hanya Tuhan yang berikan
engkaulah yang menentukan pilihan
engkau sendiri yang akan hidup diatas keputusan

Akhiri Deritamu…

Engkau yang saat ini dihadapkan dengan pilihan yang menuntut satu keputusan yang berat, cobalah untuk berpikir objektif realistis dan apa adanya. Jangan terlalu didramatisir, anggap saja ini jalan yang menguji kedewasaan. Terkadang ketegasan dalam mengambil keputusan itu diperlukan meski hati merasa berat untuk melakukan.

Ya, sebuah pengkhianatan yang dilakukan oleh orang yang dicintai akan terasa menghinakan dan merendahkan. Bagaimana tidak, dirinya yang selama ini dipercaya tak ubahnya hanya menjadi pemberi derita. Indahnya sekejap namun deritanya berkepanjangan. Banyak diantara mereka yang sadar akan penderitaan yang dirasakan namun begitu berat baginya untuk segera mengakhiri. Akhirnya mereka lebih lama bercanda dengan kesedihan, kegelisahan, kekhawatiran dan seabrek ketakutan yang ia ciptakan sendiri. Tak heran jika kata cinta buta pun terlontarkan dari orang-orang yang merasa peduli terhadapnya. Namun sebenarnya bukan cinta yang telah membuat ia buta, melainkan kecintaannya yang telah melumpuhkan logika.

Sudahlah sahabat, kenapa engkau suka berlama-lama dalam penderitaan? tak sadarkah kau waktumu telah tersiakan? tak bisakah engkau tegas dalam mengambil keputusan? atau tak terimakah engkau dengan ketetapan Tuhan?. Rasa enggan untuk menentukan pilihan bukan berarti harus berdiam dalam ketidakmenentuan, rasa berat untuk melepaskan pilihan bukan berarti harus menghakimi ketidak mampuan. Jikalau pilihan saat ini hanya menuai penderitaan, buat apa diteruskan?.

Sahabatku, kita makhluk yang dianugrahi akal dan fikiran, tak selayaknya larut dalam kekerdilan perasaan, bersegeralah tentukan mana yang harus diprioritaskan kemudian lakukan apa yang mampu untuk dilakukan demi satu kegemilangan untk hidupmu dimasa mendatang. Percayalah bahwa apa yang diberikan Tuhan itulah sebaik-baik ketetapan.

“boleh jadi kamu membenci sesuatu, Padahal ia Amat baik bagimu, dan boleh Jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, Padahal ia Amat buruk bagimu; Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui.” (QS: Al-Bakarah 216)

Kecewa…?

Kecewa…

Siapa yang tak merasa kecewa jika sesuatu yang diinginkannya selama ini ternyata tidak serta merta terjadi sesuai dengan yang diharapkan. Namun bagaimanapun itu adalah hal yang wajar mengingat semua manusia normal pastilah akan merasakannya. Akan tetapi tidak perlu karena rasa kecewa itu lantas kita menyesali usaha dan jerih payah yang telah kita lakukan. Apalagi jika harus melampiaskannya dengan sikap su’udzhon terhadap Allah. Jangan seperti itu. Kita sebagai manusia hanya mampu berusaha, Allah-lah yang menentukannya

Banyak diantaranya yang kemudian menyalahkan cinta atas sebuah kegagalan ataupun kekecewaannya. Padahal cinta itu fitrah dan polos sifatnya. Ia tidak mengenal benar dan salah. Yang mengetahui benar dan salah adalah ilmu yang berbentuk akal dan yang menjadi kendali tindakannya adalah iman. Maka arahkanlah cinta dengan ilmu dan akal yang sehat kemudian kendalikan dengan iman yang kuat agar cinta tak membuatmu kecewa. Sebagaimana Ibnu Qayyim mengatakan bahwa: dalam diri manusia ada dua wasiat, yaitu akal dan agama akal fungsinya untuk membedakan baik dan buruk. Dengan akal manusia diberi wilayah pilihan untuk ini dan itu. Dan agama berfungsi sebagai tata aturan hidup manusia, yang menentukan baik dan buruk. Jika ditaati berpahala dan jika dilanggar berdosa.

Assalamu’alaikum Cinta

Assalamu’alaikum Cinta

Tersusun dalam lima huruf C.I.N.T.A cinta. Satu kata ini telah menjadi sebuah topik yang membahana, semarak dan tak pernah usai untuk diperbincangkan. Diberbagai belahan dunia, dari masa kemasa tak pernah bosan orang-orang berbicara tentang cinta, mulai dari rakyat jelata hingga pejabat Negara, tukang kusir hingga para penyair bahkan sampai tukang sihir. Anak-anak, remaja, dewasa hingga orangtua, semuanya sudah tak aneh lagi mendengar kata cinta.

Cinta ibarat sang penguasa dunia yang berhasil membangun peradaban unik tanpa tanding. Kedatangannya menyematkan nama tersendiri di hati seluruh masarakat seantro jagat raya. Tak heran jika cinta kemudian seperti raja yang begitu diagungkan.

Ya, wajar saja. Karena memang cinta adalah sebuah fitrah manusia yang secara alamiah memiliki ruang tersendiri didalam hati untuk mewarnai liku kehidupan setiap makhluk-Nya di muka bumi ini. Kendati demikian, kehadiran cinta bukan untuk disalahkan, melainkan harus dijadikan sebentuk ruh yang dapat mempersatukan dan mendamaikan.

Cinta adalah sebentuk rasa yang datang tanpa diundang meski kehadirannya begitu dinanti. Kedatangannya menawarkan berjuta keindahan dan kebahagiaan, namun juga tak lepas dari penguntitan penyiksaan yang bisa mencelakakan. Semuanya tergantung bagaimana cara menyikapinya. Sebagai makhluk yang mulia, manusia tentunya berbeda dengan makhluk lainnya dalam menyambut kehadiran cinta. Manusia perlu pondasi yang kokoh dengan senantiasa memperkuat keimanan dan penataan ruang yang asri dihatinya dengan menebarkan kebaikan, kemudian ulurkan tangan dengan logika dan perasaan yang seimbang untuk menyambut kehadiran tamu istimewa yang bernama cinta. Agar kedatangan sang tamu tak menjadi masalah yang merepotkan bagi pemilik hati. Tak juga membuat sang tamu merasa dikecewakan karena penyambutan dan penerimaan tuan hati yang tak sesuai adab dan aturan. Ucapan salam keselamatan dan sambutan selamat datang, adalah satu kehormatan awal yang wajar diberikan kepada sang tamu: “Assalamu’alaikum cinta, selamat datang. silahkan kau tempati ruang hati yang telah lama menanti. Ini adalah tempat yang menjadi hak-mu untuk kau tinggali. semoga engkau betah disini, engkau adalah tamu yang fitrah. Ingatkan aku jika pemilik hati menyajikanmu pada suguhan yang salah. Engkau adalah tamu yang suci, kuharap kehadiranmu menebar barkah yang kan membimbing tuan pemilik hati menapaki jalan yang diridhai.” Baca lebih lanjut